Kisah Ibu Hanna Akhirnya Dipasangi Jaringan Gas Rumah Tangga

doci, offshoreindonesia.com
Selasa, 26 November 2019 | 11:42 WIB


Kisah Ibu Hanna Akhirnya Dipasangi Jaringan Gas Rumah Tangga
Memasak Air Menggunakan Jargas di Kediaman Ibu Hanna/OFFSHORE
OFFSHORE Indonesia - Ibu Hanna namanya. Seorang ibu rumah tangga yang sebetulnya punya kesibukan lain: membuka usaha jual-beli alat-alat safety di kawasan Glodok, Jakarta. Tapi demi pemasangan jaringan gas (jargas) rumah tangga di kediamannya, ia rela mengambil meluangkan waktunya. “Sudah dua minggu ini kami pakai jargas,” ujar Ibu Hanna kepada OFFSHORE Indonesia, Sabtu (23/11/2019). “Belum tahu nih lebih hemat atau nggak, cuma yang pasti nggak repot lagi beli gas,” tambahnya.

Ibu Hanna bercerita, informasi pemasangan jargas di rumahnya pertama kali disampaikan oleh pihak RT setempat. Dalam imbauan pengurus RT, warga diminta untuk bersedia meluangkan waktu saat pemasangan jargas dilakukan oleh petugas dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk. Menurut Ibu Hanna, pemasangan jargas untuk wilayahnya berlangsung kurang lebih satu bulan. Dari penggalian pipa gas di depan rumah hingga instalasi jargas ke dapur rumah. 

“Jadi memang harus sabar. Pemasangan jargas ini terlihat rumit karena harus gali tanah juga kan. Makanya belum semua warga di sini yang sudah dipasangi jargas,” ujar warga RT 01/09 Beji-Depok, Jawa Barat, ini.

Pada 2019, kawasan tempat tinggal Ibu Hanna yang awam disebut Perumnas Depok Utara ini merupakan salah satu titik yang sedang dipasangi jargas oleh PGN. Namun, seperti penuturan Ibu Hanna, belum semua warga menikmati jargas. “Karena tidak semua warga yang bersedia meluangkan waktunya. Mungkin saking sibuknya bekerja atau mungkin masih kurang percaya dengan jargas. Mungkin juga khawatir dimintain duit sama petugasnya,” Ibu Hanna menjelaskan.

Ibu Hanna melanjutkan, selain meluangkan waktu, pemasangan jargas hingga ke dapur rumah memang harus sedikit berkorban. Itu karena tembok rumah harus dilubangi sedikit sebagai tempat masuknya pipa gas milik PGN. “Tapi nggak apa-apalah, toh petugasnya sangat profesional sehingga kerusakan tembok sangat sedikit. Wajarlah menurut saya,” katanya.

Tambahan lain, petugas pemasangan jargas di kediaman Ibu Hanna merasa nyaman karena tuan rumah justru menyuguhkan minuman dan makanan ringan saat bekerja. Hal ini menurut Ibu Hanna sangat penting agar petugasnya merasa nyaman saat bekerja. “Kita kasih kopi dan kue juga buat petugasnya. Saya rasa itu sangat wajar sebagai tuan rumah. Apalagi, ini semuanya gratis loh, nggak ada dipungut biaya sama sekali,” tukas Ibu Hanna membagikan tips.

Namun karena masih baru menggunakan jargas, Ibu Hanna belum mengetahui perbandingan harga gas rumah tangga dengan LPG. Bagi Ibu Hanna, harga jargas bukan persoalan pokok, yang penting ia tidak lagi repot harus gonta-ganti tabung LPG. “Tapi kalau bisa, boleh nggak sih kompor gas pemberian PGN ini kita ganti dengan kompor gas kita yang lama. Soalnya kompor jargas ini kecil,” pungkas Ibu Hanna.

Sambutan positif Ibu Hanna ini pun mendapat apresiasi dari pemerintah. Plt Dirjen Migas, Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan, sikap proaktif Ibu Hanna merupakan hal positif yang bisa menjadi teladan bagi warga lainnya. Menurut Djoko, keberhasilan program jargas tidak hanya terletak pada keseriusan pemerintah saja, tetapi juga wajib melibatkan peran serta masyarakat. 

“Ibu Hanna ini telah memberikan contoh yang baik bagi warga lainnya. Semoga saja bisa ditiru warga lainnya,” ujar Djoko kepada OFFSHORE Indonesia, Senin (25/11/2019). 

Diketahui, pemerintah saat ini terus menggalakkan pemasangan jargas rumah tangga di seluruh Indonesia. Pada Maret 2019, Kementerian ESDM bahkan telah menandatangani nota kesepahaman dengan 18 kota/kabupaten tentang Penyediaan dan Pendistribusian Gas Bumi Melalui Jaringan Gas Bumi (jargas) untuk Rumah Tangga. 

Untuk 18 kabupaten/kota tersebut, Kementerian ESDM membangun sambungan jargas sebanyak 78.216 SR. Dari jumlah tersebut, Kota Depok akan dipasangi sebanyak 6.230. Sementara tetangganya, yakni Kota Bekasi mendapat jatah sambungan sebanyak 6.720 SR.

Dijelaskan Djoko, pembangunan jargas ini didampingi oleh PT Pertamina (Persero) melalui anak perusahaannya, yang juga berperan sebagai subholding gas yaitu PT PGN Tbk," ujar Djoko. Menurut Djoko, harga gas rumah tangga di setiap daerah bisa saja bervariasi di setiap daerah. Namun dia memastikan, harganya akan tetap lebih murah ketimbang harga tabung gas LPG. "Maksimal harganya itu sama dengan harga konsumen untuk tabung gas LPG 3 kg dan 12 kg, bahkan bisa lebih murah," katanya.

Pada tahun depan, sambung Djoko, pemerintah kembali akan membangun jargas sebanyak 293.533 SR yang tersebar di 54 kabupaten/kota. Disampaikan Djoko, penyebaran jargas ke seluruh Indonesia ini merupakan komitmen pemerintah dalam upaya merealisasikan akses terhadap energi gas bumi dan percepatan energi gas bumi. 

Hal ini sesuai dengan Perpres Nomor 6 Tahun 2019 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Gas Bumi Melalui Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi untuk Rumah Tangga dan Pelanggan Kecil. Tambahan lagi, pembangunan jargas merupakan bagian dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) tahun 2015-2030 karena dapat memenuhi kebutuhan energi yang bersih, bersaing, ramah lingkungan, dan efisien.

Itu sebabnya Djoko sangat mengapresiasi apabila ada warga seperti Ibu Hanna yang sangat proaktif ketika rumahnya akan dipasangi jargas. “Kendala nonteknis seperti kesediaan pemilik rumah dipasangi jargas setidaknya sudah tidak ada. Itu akan sangat membantu penyelesaian proyek seperti ini,” pungkas Djoko.

Sementara itu, Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN, Dilo Seno Widagdo juga mengakui kesuksesan program jargas sangat dipengaruhi koordinasi, kerja sama, dan dukungan dari seluruh pihak terkait. Menurut Dilo, mitigasi risiko sosial saat pembangunan jargas dari pemerintah dan masyarakat di daerah sangat diperlukan untuk bersinergi ikut menjaga infrastruktur dan fasilitas jargas dari oknum-oknum yang berupaya menghambat suksesnya program strategis ini. Ishak Pardosi