Tegas, Bara JP Siap Bela Denny Siregar

redaksi, offshoreindonesia.com
Kamis, 07 Mei 2020 | 12:53 WIB


Tegas, Bara JP Siap Bela Denny Siregar
Pegiat Medsos Denny Siregar/ist
OFFSHORE Indonesia - Ketua Bidang Hukum Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP), Dinalara Dermawati Butar-Butar mendukung penuh pegiat media sosial Denny Siregar yang siap berhadapan di jalur hukum dengan Partai Demokrat.

Diketahui, persoalan ini bermula dari kata "lockdown" ketika Ketua Umum Demokrat, Agus Yudhoyono atau AHY, mengunggah kegiatan tugas sekolah anaknya Almira Tunggadewi Yudhoyono, yaitu membuat pidato dengan bahasa Inggris. Skenario dari tugas itu adalah pidato itu harus disampaikan langsung ke Presiden Jokowi.  Judul dari tugas Almira adalah 'Lockdown Speech'.

Dina mengatakan tak ada yang salah dengan tweet Denny Siregar yang mempersoalkan kata lockdown tersebut, sekalipun itu tugas sekolah seorang anak kecil.

"Itu bukan cyberbullyng kepada Almira. Denny hanya melihat bahwa faktanya SBY dan AHY pernah mengusulkan lockdown kepada Jokowi dan sekarang melalui tugas sekolah Almira pun mengusulkan hal yang sama," kata Dina dalam keterangan persnya, Kamis (7/5/2020). 

Dina melanjutkan, jika menurut AHY apa yang dilakukan anaknya adalah hanya tujuan untuk tugas sekolah, untuk apa AHY memposting tugas sekolah tersebut. Artinya AHY sadar betul bahwa apa yang diposting tersebut akan mendapat respon dari medsos baik positif maupun negatif.  

“Jadi apa yang dipublikasikan, hal tersebut halal untuk dikomentari. Seperti halnya yang dilakukan oleh Denny Siregar, dan bukan hanya Denny Siregar saja yang mengomentarinya,” katanya.

Dina menambahkan, meski AHY sudah menjelaskan bahwa tugas sekolah anaknya itu bukan untuk tujuan politik, namun posisi AHY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dan anak dari mantan Presiden SBY tak bisa dilepaskan.

Menurut Dina, tak akan jadi persoalan jika yang menulis tersebut seorang anak kecil yang orangtuanya bukan siapa-siapa, bukan petinggi partai yang pernah meminta lockdown kepada Presiden Jokowi. 

"Lagipula, sejauh apa sih pengetahuan seorang anak kecil terhadap arti lockdown kalau bukan karena arahan dari orangtuanya? Justru patut diduga ada narasi lain di balik pidato anak AHY tersebut, dan untuk apa dipublikasikan. Patut diduga justru AHY sendirilah yang telah mengeksploitasi anak demi kepentingan politik katanya.  Apalagi narasi dalam pidato Almira tersebut senada dengan apa yang sebelumnya dinarasikan oleh SBY dan AHY,” beber Dina.

Sehingga, sambung Dina, sangat wajar sekali pengguna medsos ataupun Denny Siregar menanggapi pidato tersebut, karena memang satu rangkaian dengan pernyataan SBY dan AHY.  “Jadi LBH Bara JP sangat menyayangkan sikap dan tindakan yang dilakukan AHY dengan mengekploitasi anak di bawah umur demi kepentingan politiknya,” kata Dina.

"Jadi tak ada yang salah dengan apa yang ditulis Denny, dia hanya mempersoalkan kata lockdown karena secara tersirat jelas alurnya, sebelum Almira menulis itu, SBY dan AHY juga pernah meminta lockdown, juga beberapa kepala daerah kader Demokrat. Jadi jelas arahnya, kan?" ujar Dina.  

Atas alasan itu, LBH Bara JP siap memberikan pendampingan hukum terhadap Denny Siregar ataupun masyarakat Indonesia yang akan diperhadapkan dengan hukum terkait dengan komentar atas pidato putri AHY. Karena yang mengomentari di medsos tersebut bukan hanya Denny Siregar semata. 

Sebelumnya, Denny juga sudah menegaskan ia tidak sedang melakukan cyberbullying. Ia mempersilakan jika Partai Demokrat akan menempuh jalur hukum.

"Di situ saya tidak sedang mem-bully seorang anak. Meskipun saya juga heran, kok bisa ya anak usia 11 tahun paham tentang konsep lockdown," kata Denny.

Ia mengatakan sejak awal Demokrat adalah partai yang mendukung lockdown, pada saat Jokowi sedang mencari cara bagaimana agar masalah wabah tidak mengganggu perekonomian negara. "Dan itu disampaikan langsung oleh Agus Harimurti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat yang baru," kata Denny dalam statusnya di Facebook.

"Bahkan sebelumnya, SBY yang mantan presiden dan pendiri Partai Demokrat, sudah sibuk dengan narasai supaya Indonesia lockdown mengikuti jejak banyak negara yang sudah melakukan hal yang sama seperti Singapura dan India," katanya.

Meski akhirnya suara SBY pun berusaha lebih lembut, dengan mendukung kebijakan Jokowi tidak melakukan lockdown di negeri ini. Biasalah SBY, dia bisa saja main di dua kaki. Tapi sikap Partai Demokrat masih jelas tetap menyuarakan lockdown.

Ia lalu mencontohkan pada waktu awal heboh virus di Indonesia, Wali Kota Tegal memberlakukan lockdown kota sepihak tanpa berkoordinasi dengan pusat. Demikian juga dengan Wali Kota Malang dan seruan awal Gubernur Papua. Kata Denny seua kepala daerah ini adalah kader Demokrat. "Awalnya sibuk menyuarakan lockdown meski akhirnya belakangan hari diralat," katanya.

Denny mengatakan akhirnya bisa disimpulkan, narasi lockdown itu tidak bekerja secara acak, tetapi dibangun lewat kendaraan partai dan dieksekusi oleh pemerintah daerah yang berada dalam satu kendaraan.

"Dan untuk menaikkan suara, Demokrat butuh momentum supaya orang melirik kembali kepada mereka. Saat wabah inilah, Demokrat memainkan strategi lockdown untuk meraih simpati supaya partainya tidak hilang saat Pemilu 2024 nanti," ujarna. 

"Berdasarkan gambar besar itulah saya membuat twit," tulis Denny.


ARTIKEL TERKAIT