Kisah Jamsaton Nababan Sulap Proyek Jambaran-Tiung Biru: Dulu Mati Suri Kini Hidup Lagi

doci, offshoreindonesia.com
Selasa, 09 Juni 2020 | 19:35 WIB


Kisah Jamsaton Nababan Sulap Proyek Jambaran-Tiung Biru: Dulu Mati Suri Kini Hidup Lagi
Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu Jamsaton Nababan
Ir Jamsaton Nababan mempunyai tanggung jawab cukup menantang, yakni menuntaskan pekerjaan megaproyek Jambaran Tiung Biru. Tugas itu diperolehnya setelah resmi menjabat sebagai Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu (PEPC), atau naik posisi dari sebelumnya sebagai Direktur Pengembangan PEPC.

Proyek Jambaran-Tiung Biru atau yang lazim disebut dengan proyek JTB adalah salah satu proyek strategis nasional pada sektor hulu Migas yaitu proyek pengembangan lapangan gas Jambaran yang berada di Blok Cepu dan unitisasi dengan lapangan gas Tiung Biru.  

Proyek JTB ini dikembangkan mulai dari pengeboran sumur produksi (Drilling) dan fasilitas pengolahan gas yang disebut dengan Gas Processing Facilitiy (GPF). Pada awalnya, proyek ini didesain untuk menghasilkan produksi sales gas sebesar 172 MMSCFD dengan raw gas sekitar 330 MMSCFD dari 6 (enam) sumur produksi dengan capex sekitar USD 2 milyar.

Pada awalnya, proyek ini dikelola bersama-sama dengan partner PT. Pertamina EP Cepu (salah satu anak perusahaan PT Pertamina), yaitu Exxonmobil Cepu Limited (EMCL), beberapa BUMD dan PT Pertamina EP dengan PT Pertamina EP Cepu (PEPC) sebagai operator. Dengan nilai capex sebesar USD 2 milyar maka harga jual gas ke buyer adalah sekitar USD 8 per MMBTU dengan eskalasi 2% per tahun. 

Dengan harga gas yang demikian tinggi, maka semua buyer yang sudah komit sebelumnya menarik diri dari perjanjian jual-beli gas dengan alasan harga gas yang demikian tinggi sudah tidak masuk dalam perhitungan keekonomian para Buyers, seperti: PT. PLN (Persero) dan PT. Pupuk Kujang. Dengan tidak adanya Buyers yang menyerap produk gas dari JTB, maka status proyek JTB dinyatakan hold. Dengan demikian, status proyek menjadi mengambang dan terhenti antara Go dan No Go alias mati suri.

Di tengah-tengah ketidakpastian status proyek, Pemerintah menugaskan PEPC untuk mengambil alih proyek dari EMCL yang memiliki participant interest (PI) 42% dengan melakukan pendekatan B to B.  Hasil pendekatan B to B dengan EMCL disepakati bahwa PEPC mengambil alih participant interest (PI) milik EMCL dan di kemudian hari para BUMD juga menyerahkan hak participant interest mereka kepada PEPC. Sehingga kepemilikan PEPC pada lapangan Jambaran-Tiung Biru menjadi 92% dan kepemilikan PT Pertamina EP sebesar 8%. 

Dengan dominannya kepemilikan participant interest PEPC tersebut dan penugasan sebagai operator, membuatnya lebih leluasa membuat terobosan inovasi untuk menurunkan harga jual gas dari USD 8 per MMSCFD dengan eskalasi 2% sekaligus untuk menghidupkan kembali proyek JTB. 

Upaya-upaya yang dilakukan oleh Jamsaton Nababan dalam rangka menghidupkan kembali proyek JTB yang sudah mati suri menjadi hidup kembali.Beberapa langkah inovasi dan kreatif untuk menghidupkan kembali proyek JTB adalah menurunkan 
biaya capex dari USD 2 milyar menjadi USD 1,5 milyar. Langkah pertama yang dilakukan PEPC untuk mewujudkan dan menjalankan proyek JTB ini adalah melakukan efisiensi biaya capex agar dapat menurunkan harga jual gas kepada buyer. 

Program efisiensi biaya capex proyek JTB dipimpin langsung oleh Jamsaton Nababan yang pada saat itu memegang jabatan sebagai Direktur Pengembangan PEPC. Upaya efisensi dilakukan dengan menyisir biaya capex pada sektor Drilling (Drilling cost) dan sektor Project Management Team (PMT Cost). 

Efisiensi biaya dari kedua sektor tersebut dapat menurunkan biaya capex hampir USD 500 juta yaitu dari semula USD 2 milyar menjadi USD 1,547 milyar, yang otomatis dapat menurunkan harga jual gas dari semula USD 8 per MMBTU dengan eskalasi 2% per tahun menjadi USD 6,7 per MMBTU tanpa eskalasi selama 15 tahun. 

Dengan harga gas yang demikian, membuat para buyers kembali bergairah untuk menerima harga jual gas JTB dan proyek JTB yang sebelumnya mati suri dan kini kembali hidup. Adapun penghematan dari drilling cost didapat dari optimalisasi disain, seperti pemilihan material yang over spec dan mengubah metode drilling (pengeboran). 

Sedangkan penghematan dari PMT cost didapat dari pengurangan tenaga expart dari secondee EMCL dan menggantikannya dari tenaga ahli lokal dan meminimalkan jumlah tenaga expart seminimal mungkin dengan rate yang lebih kompetitif.

Optimalisasi disain pada Gas Processing Facility (GPF) untuk meningkat produksi sales gas dari 172 MMSCFD menjadi 192 MMSCFD tanpa menambah biaya capex dan juga memanfaatkan komponen limbah sulfur menjadi produk turunan yang bernilai ekonomis di pasaran.

Dengan telah diturunkannya biaya capex sebesar USD 500 juta, PEPC melanjutkan penandatanganan kontrak EPC kepada pemenang tender yaitu konsorsium Rekayasa Industri- JGC corporation dan JGC Indonesia (RJJ) yang ditandatangani oleh Jamsaton Nababan yang pada saat itu sudah menjabat sebagai Direktur Utama PEPC dengan pihak pelaksana pekerjaan (Kontraktor GPF) yang dalam hal ini dimenangkan oleh konsorsium Rekind-JGC japan- JGC Indonesia (RJJ) melalui proses tender. 

Di dalam review engineering muncul suatu masalah yaitu terjadinya hydrate dalam proses pengolahan gas. Terjadinya hydrate tersebut menyebabkan performance fasilitas pengolahan gas menjadi tidak maksimal dan reliability plant menjadi sangat rendah. Hal ini akan menimbulkan kerugian besar bagi Pemerintah, PT. Pertamina EP Cepu dan Buyers dimana parameter keekonomian yang merosot dengan NPV negatif.

Jamsaton Nababan selaku pimpinan tertinggi di PEPC memimpin langsung tim proyek untuk melakukan analisa solusi dan inovasi demi menyelamatkan proyek. Pilihannya ada 2 opsi. Opsi pertama adalah menambah biaya capex sekitar USD 200 juta untuk penambahan peralatan, sementara opsi kedua adalah mengganti teknologi pengolahan gas yang sudah ada dengan beberapa alternatif sub opsi. Opsi pertama tidak menjadi pilihan saat itu karena dengan penambahan biaya capex USD 200 juta maka keekonomian proyek menjadi negatif. 

Dalam melakukan kajian pilihan teknologi, Jamsaton Nababan menekankan terhadap dua kriteria yaitu tidak ada penambahan biaya capex dan teknologi yang dipilih sudah harus terbukti (proven) di dunia. Dengan dua kriteria yang sudah ditetapkan oleh Jamsaton Nababan maka dipilih teknologi pengolahan gas dengan teknologi membrane. 

Di samping kriteria capex dan teknologi proven, pilihan atas teknologi membrane dapat meningkatkan volume produk gas sebesar 20 MMSCFD karena adanya efisiensi penggunaan utility gas. Dengan demikian produk gas JTB mengalami peningkatan dari semula 172 MMSCFD menjadi 192 MMSCFD tanpa adanya kenaikan capex.

Keputusan lain yang diambil oleh Jamsaton Nababan adalah mengubah produk sampingan gas yaitu sulfur dari semula dalam bentuk padat menjadi bentuk cair atau asam sulfat (H2SO4). Keputusan untuk memilih produk sulfur cair (H2SO4) adalah untuk menambah revenue produksi lapangan JTB dimana sulfur cair mempunyai nilai jual di market untuk bahan dasar industri, sedangkan sulfur padat adalah produk limbah (waste) yang tidak mempunyai nilai jual bahkan membutuhkan biaya operasi untuk proses pengangkutan limbah sulfur padat. 

Di samping itu, keputusan untuk mengubah produk sulfur padat menjadi asam sulfat dapat mengurangi volume impor Indonesia sebesar 40%  sebesar 300 ton per hari. Hal ini sekaligus mengurangi devisa impor negara.

Dalam manajemen eksekusi proyek, Jamsaton Nababan menerapkan prinsip One team (Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, senasib sepenanggungan), baik di internal PEPC maupun terhadap Kontraktor pelaksana yaitu Rekind dan JGC (RJJ). Dengan konsep one team ini tidak terdapat lagi sekat-sekat di internal PEPC. 

Demikian juga hubungan antara PEPC terhadap kontraktor pelaksana. Semua pihak hanya mempunyai satu target bersama yaitu target waktu onstream, target biaya tidak melebihi capex dan target kualitas. Semua isu yang berpotensi menimbulkan kendala dalam eksekusi proyek diselesaikan secara dini dan secara bersama-sama serta transparan.

Dengan konsep dan filosofi kepemimpinan Jamsaton Nababan yang demikian, progress kemajuan proyek JTB berjalan on-the track yang sampai saat ini sudah mencatat progress hampir 63% dengan target on-stream pada Juli 2021. 

Meskipun di tengah-tengah kondisi pandemic covid-19, proyek JTB tetap dikelola dan berjalan dengan maksimal dengan tetap memperhatikan protokol pencegahan covid. Bahkan di tengah-tengah kondisi covid-19 Proyek JTB masih bisa menambah tenaga kerja sebanyak 1000 orang pekerja sehingga total pekerja menjadi sekitar 5000 orang pekerja dengan tidak ada terpapar covid yang positip dan progress kedatangan peralatan di lokasi tetap berjalan. 

Kendala-kendala yang dihadapi akibat dampak covid-19 dikelola dengan berbagai inovasi. Kendala utama yang terjadi akibat covid-19 adalah terbatasnya mobilisasi pekerja yang dibutuhkan ke lapangan proyek akibat adanya pembatasan sosial di beberapa daerah dan penutupan akses bandara di Surabaya, Semarang dan Solo, terbatasnya ketersediaan tenaga kerja ahli di pasaran untuk dipekerjakan di proyek. 

Hal ini terjadi karena keengganan para tenaga kerja ahli untuk melakukan perjalanan keluar dari daerah asalnya. Kemudian, berkurangnya hari-hari kerja efektif karena para pekerja luar daerah Bojonegoro harus menjalani masa karantina mandiri selama 14 hari.

Selanjutnya, beberapa pabrikan untuk pabrikasi peralatan proyek mengalami penutupan dan pengurangan aktifitas, baik pabrikan di luar negeri maupun yang berada di dalam negeri, juga karena roses pengiriman barang atau material ke lokasi proyek mengalami terkendala, baik di pelabuhan maupun transportasi darat. 

Beberapa langkah inovasi yang dilakukan untuk mengatasi dampak covid-19 tersebut adalah mengubah sistem on-off pekerja yang semula 12 minggu off dan 12 minggu on menjadi 12 minggu off, 12 minggu karantina dan 28 minggu on. Penambahan shift on tersebut bertujuan untuk mengimbangi hari-hari kerja efektif yang hilang akibat menjalani masa karantina. 

Penambahan shift kerja on menjadi 28 hari sudah barang tentu diimbangi dengan pemberian insentif gaji untuk biaya komunikasi para pekerja kepada keluarga dan juga menambah biaya vitamin dan aspek hiburan di mess- mess untuk menghilangkan rasa jenuh. 

Kemudian, menggunakan transportasi darat sebagai satu-satunya moda transportasi dari dan ke lokasi proyek dimana perusahaan menyediakan kendaraan operasional uantuk mengantar dan menjemput pekerja yang on atau off. Ini dilakukan untuk menghindari penggunaan transportasi massal. 

Berikutnya adalah meningkatkan komunikasi day by day dengan pabrikan yang ada di luar negeri maupun yang di dalam negeri untuk mengetahui kemajuan progress pabrikasi dan kendala-kendala yang dihadapi secara dini. 

Melakukan konsep zero material di pelabuhan yang berarti setiap material yang sudah tiba di pelabuhan harus segera dikeluarkan dan di-deliver ke lapangan proyek. 

Dalam aktifitas proyek, Jamsaton Nababan menerapkan motto HSSE yaitu “Zero Incident, kami bekerja selamat”. Motto ini harus dipahami dan diresapi oleh semua pekerja PEPC, baik di lokasi proyek maupun di lokasi kantor pusat. Jamsaton Nababan menerapkan teori aliran listrik dalam kabel dalam mengimplementasikan motto HSSE tersebut yaitu mulai aliran listrik dari satu ujung kabel ke ujung kabel lainnya harus sama dirasakan sengatan dan cepat penyebarannya. 

Filosofi dan konsep penerapan motto HSSE ini berbuah dengan performance HSSE yang moncer sejak tahun 2018 sampai dengan saat pertengahan 2020 angka fatality dan lost time accident adalah Zero. Dan total jam kerja selamat sampai dengan saat ini adalah 14,765,363 jam kerja selamat.

Adapun progress kegiatan pemboran juga sangat bagus dimana dari 6 sumur yang akan dibor untuk pasokan gas JTB, sudah diselesaikan 4 (empat) sumur. Saat ini Rig drilling sedang mobilisasi untuk pemboran sumur ke 5 dan ke 6. Progress pemboran sumur produksi gas saat ini lebih cepat sekitar 20 hari dari rencana semula dan terdapat efisiensi budget sekitar USD 80 juta.


ARTIKEL TERKAIT