Berikan Kebebasan Beribadah dan Bantuan kepada Pengungsi Rohingya di Aceh

Pam, offshoreindonesia.com
Rabu, 15 Juli 2020 | 14:38 WIB


Berikan Kebebasan Beribadah dan Bantuan kepada Pengungsi Rohingya di Aceh
Webinar "Mengkaji Masa Depan Etnis Rohingya di Aceh Pasca Penolakan Negara Negara di Asean dan Peran Lembaga Kemanusiaan Membantu Etnis Rohingya di Aceh".
OFFSHORE Indonesia -  Diskusi hangat tersaji minggu ini, Selasa (14/7) dengan Tema Politik Lintas Batas (Border) : "Mengkaji Masa Depan Etnis Rohingya di Aceh Pasca Penolakan Negara Negara di Asean dan Peran Lembaga Kemanusiaan Membantu Etnis Rohingya di Aceh".

Menggandeng Forum Wartawan Online (FWO), diskusi ini diselenggarakan oleh Fokusparlemen Institute secara Daring. Narasumber yang hadir antara lain, Senator asal Aceh, H. Fachrul Razi MIP yang juga Wakil Pimpinan I Komite I DPD RI, Thariq Farline (Kepala Cabang ACT Lhokseumawe), Muhammad Ichsan (Mahasiswa S2 Kajian Asia Tenggara FIB UI) serta dipandu Moderator/Host Syibral Mulasi.

Pada Sesi Pertama dibuka oleh Pemateri Senator Fachrul Razi mengupas sedikit sejarah awal konflik di daratan Arakan, sekarang  Rakhine salah satu negara bagian di Myanmar yang bergejolak tersebut.

"Dalam sejarah pada masa Kolonial Inggris menguasai Myanmar, Etnis Rohingya telah ada dan telah menetap di kawasan yang sekarang menjadi wilayah yang berpenduduk  Arakan (kini Rakhine) merupakan salah satu dari tujuh suku bangsa minoritas di Myanmar yang menjadi negara bagian, selain Kachin, Kayah, Kayin, Chin, Mon, dan Shan. Semua suku bangsa di Myanmar dikelompokan dalam tiga suku bangsa besar yaitu Mon-Khmer, Tibeto-Myanmar, dan Shan Thai," jelas Fachrul.

Fachrul menambahkan Rohingya melarikan diri dari negaranya karena kekejaman Junta Militer Myanmar yang membantai mereka hingga mereka saat ini menjadi terkatung katung dan terdampar di berbagai negara.

"Bangladesh menjadi lokasi camp pengungsi terbesar di dunia saat ini sab di kawasan ASEAN khususnya di Provinsi Aceh Indonesia mereka akhirnya diterima". jelasnya.

Fachrul Razi juga berharap kasus Rohingya ini segera selesai dengan memberikan Hak untuk beribadah juga perlindungan hukum serta Wilayah khusus Negara ketiga terhadap warga Rohingya.

Sedangkan menurut Thariq Farline dari Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) menambahkan kehadiran Rohingya sebagai berkah bagi Aceh.

"Karena kehadiran mereka sesama umat manusia, makhluk sosial serta Aceh juga wilayah yang mereka anggap seiman yaitu Islam membuat mereka mudah diterima," terang Thariq.

Thariq menambahkan saat ini Lembaga ACT memfokuskan ke 99 warga Etnis Rohingya yang baru saja dipindahkan dari Gedung Bekas Imigrasi ke tempat baru Gedung BLK Lhokseumawe. " Jadi kita fokuskan membantu 99 etnis rohingya ketersediaan bantuan bahan sandang pangan yang telah dipindahkan ke Gedung BLK berkoordinasi dengan pihak Perwakilan UNHCR serta Kemenlu," jelasnya.

Selanjutnya, pemateri lainnya Muhammad Ichsan menyatakan bahwa dalam sejarah, Indonesia telah berpengalaman menangani pengungsi rentan. Tahun 1979 -1997 negara kita sudah tangani Pengungsi dengan baik. Kehadiran Rohingya di Aceh mengulang nostalgia pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Provinsi Kepulauan Riau," jelasnya.

Ichsan mencontohkan seperti Indonesia menangani 250.000 ribu pengungsi korban perang antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Yang mana pengungsian besar besaran negara itu ke pulau Galang, Kepulauan Riau. "Saat ini terulang kembali sejarah Aceh untuk Rohingya sama seperti Indonesia untuk warga Vietnam dahulunya dikenal dengan Manusia Sampan," tutup Ichsan. 


ARTIKEL TERKAIT