Akibat Pandemi Covid 19, Klasemen Bisnis Sewa Lapangan Bola pun Melorot

Siti Suroya, offshoreindonesia.com
Sabtu, 14 November 2020 | 14:55 WIB


Akibat Pandemi Covid 19, Klasemen Bisnis Sewa Lapangan Bola pun Melorot
Pancoran Soccer Field (foto: dok PSF)
OFFSHORE INDONESIA - Pandemi virus Corona (Covid-19) sangat berdampak pada setiap lini kehidupan manusia. Baik itu terhadap keadaan mental, maupun ekonomi. Pandemi ini membuat banyak sekali kerugian di sektor ekonomi, dari karyawan yang dirumahkan, sampai produksi yang terhenti dan penutupan tempat usaha. Kondisi yang tidak menentu saat ini tentunya sangat meresahkan. 

Banyak pelaku bisnis yang terkena dampak dari pandemi ini, salah satunya adalah usaha penyedia fasilitas olahraga, khususnya sepakbola. Sepakbola adalah salah satu olahraga yang “diharamkan” di era pandemi ini, bagaimana tidak? olahraga beregu ini pasti terjadi benturan, sentuhan dan komunikasi fisik antar pemainnnya. Selain itu, olahraga nomor satu di Indonesia ini juga banyak penggemarnya, sehingga bukan hanya pemainnya yang melibatkan orang banyak, tapi penontonnya juga tidak kalah banyak.

Pancoran Soccer Field adalah salah satu sarana sepakbola terbaik di Jakarta, memiliki 2 lapangan sepakbola artificial berstandar FIFA, tentunya banyak sekali penggemar olahraga kulit bundar ini yang bermain di lapangan PSF. Bertampat di bilangan Pancoran, PSF menjadi salah satu tempat favorit untuk berkerumun masyarakat sepakbola Jakarta. 

Untuk mengetahui lebih jauh seberapa besar dampak dari pandemik Covid 19, reporter magang Siti Suroya menghubungi Diky Soemarno, Direktur Marketing PSF, mengenai bagaimana sarana olahraga tetap bisa hidup di pandemi ini. Dan, bagaimana cara meyakinkan banyak pihak agar sarana olahraga tetap bisa dibuka di era New Normal ini. 

“Sejak PSBB pertama diberlakukan pada 10 April 2020, sejak saat itu kami menutup lapangan sepakbola hingga 1 Juli 2020. Sebelum PSBB, setiap hari dari Senin sampai Jumat ada 10 jam pemakaian lapangan, di akhir pekan. Ada 14 jam pemakaian lapangan sepakbola," cerita Diky Soemarno mengenang era pra pandemi Covid-19.

Diky pun menceritakan soal kerugian selama masa PSBB mencapai hingga Rp 2 miliar. Tentunya ini bukan kerugian yang sedikit mengingat jumlah pemasukan setiap bulannya untuk PSF mencapai 900 juta rupiah. Lantas, bagaimana cara Diky untuk bisa mengoperasikan kembali lapangan sepakbola PSF di era sekarang ini?

“Protokol kesehatan, itu yang paling pentin. Kami terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan Dinas Olahraga dan Pemuda DKI Jakarta, juga dengan Dinas Kesehatan tentang protokol kesehatan untuk bermain sepakbola dan fasilitas umum. Dari situ, kami mempersiapkan semuanya dengan matang, mempresentasikan kepada pihak yag berwajib, dan meyakinkan bahwa sepakbola aman untuk dilakukan oleh masyarakat selama protokol kesehatan itu dilakukan," kata Diky. 

Ketika memasuki Lapangan PSF, sambung Diky mereka memang melakukan pengecekan suhu, mewajibkan untuk mencuci tangan, pelarangan membawa makanan dan minuman dari luar, memberlakukan social distancing untuk orang yang duduk di sekitaran lapangan. Selain itu pihaknya juga mengatur pintu keluar masuk lapangan, agar orang tidak saling bertemu dan berkerumun di jam transisi penyewaan lapangan.

"Dari sisi marketing, ketika semua ekonomi tampak berkurang, maka PSF melakukan berbagai promosi seperti diskon 25% untuk pelajar, lalu kampanye pentingnya sepakbola untuk menjaga kesehatan. Mereka juga bekerjasama dengan para influencer untuk mengajak bermain sepakbola dengan mematuhi protocol kesehatan yang sudah ditetapkan," tegasnya.

Saat ini, PSF sudah dibuka kembali, mekanisme bisnis pun berjalan seperti sedia kala. Meskipun banyak hal berbeda dari sisi pemasukan financial PSF. Diky mengakui, "Pentingnya pelaku usaha untuk sadar akan perubahan sikap perilaku konsumen. Dari yang dulu registrasi secara langsung, sekarang online di era pandemik ini. Pelaku usaha harus semakin kreatif dalam strategi pemasaran, sehingga para konsumen tetap terjangkau dan terinformasikan atas apa yang ditawarkan oleh pelaku usaha."

Dan yang terakhir, jelas Diky adalah menjalin hubungan dengan seluruh pemangku kepentingan agar semua usaha berjalan dengan lancer dan tidak melanggar peraturan yang ditetapkan. Ketika hal-hal tersebut dapat dilakukan, maka pelaku usaha sepertinya bisa terus bertahan di era pandemik ini.

Sepakbola memang olahraga yang melibatkan banyak orang, dan banyak sekali risiko yang terjadi. Itu pula alasan pihak kepolisian belum memberikan izin kepada Liga 1 untuk berlangsung. Namun ketika semua dilakukan dengan komitmen dan kesepakatan untuk mematuhi peraturan, maka itu semua akan bisa dilaksanakan. 

Semoga para pelaku usaha bisa bertahan di era pandemik ini, karena mungkin ini bukanlah akhir dari kehidupan manusia. Namun awal dari bagaimana manusia harus beradaptasi, toh pada dasarnya, sifat dasar manusia adalah mampu beradaptasi.